page contents

Laut

11/25/2012

0 Comments

 
Oleh : Intan Hs

            Derau angin menerpa atap rumbia sebuah rumah. Sepasang bola mata sedang menatap papan rumahnya dalam diam tak bergeming. Hanya terdengar gemuruh halilintar di luar sana. Sudah dua bulan ini hujan turun terus-menerus , padahal bulan ini adalah bulan kemarau. Rinjani hanya bisa pasrah bila rumahnya harus rubuh lagi di terjang oleh angin seperti kemarin.

            Malam terus mengelam, tetapi tak ada tanda-tanda hujan akan reda. Rinjani mencoba memejamkan mata, menentramkan hati barang sejenak. Sudah tujuh bulan ia hidup sendiri, suaminya tak lagi disisinya karena belum pulang juga dari melaut. Sejak suaminya tak kunjung pulang dari melaut, Rinjani tak pernah dikehendaki warga desa. Mereka ramai-ramai mengungsikannya ke tepian desa dengan hasutan Pak Kepala Desa, dan baru dibolehkan kembali menempati rumhanya kalau suaminya sudah pulang. Warga desa terutama ibu-ibu sangat senang dengan hal ini, sebab kebanyakan mereka sangat takut kalau-kalau suaminya tertarik dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Rinjani.

            Dalam keadaan seperti ini, ia sangat rindu dengan suaminya, “Bang Lilik, pulanglah!” desahnya.

Terdengar keritik batu kerikil, membuat mata Rinjani terjaga. Ia mengintip dari celah kayu, ada seseorang yang datang dan tubuhnya tampak basah kuyup. Lelaki itu setengah berlari menuju ke rumahnya. Rinjani bergegas memalang pintunya dengan dua batang kayu yang telah lapuk, dan meringkuk di sudut rumah. Rinjani hanya menunggu saja apa yang akan  terjadi karena ia tak tahu harus berbuat apa lagi untuk melindungi diri.

            Langkah-langkah semakin jelas terdengar mendekat dan semakin mendekat ke rumahnya. Rinjani hanya berdoa dalam hati dengan perasaan perih dan pedih.

            “Rinjani, buka pintu!” ucapnya setengah berteriak

Rinjani tak menjawab, hanya bibirnya yang gemeretak ketika terdengar pintu di dobrak. Rinjani merutuk dan sangat kalut, palang pintu itu sudah lapuk dan entah berapa lama dapat bertahan dengan dobrakan lelaki yang bertubuh tambun dan tinggi besar itu. Rinjani mengigit bibirnya menahan ketakutan.

            “Buka pintu ini Rinjani, atau akan kudobrak sampai hancur!”

Dengan sigap Rinjani membuka pintu belakang lantas berlari dan menyusup di antara rimbun pepohonan. Tak lama setelah Rinjani keluar dari rumahnya, lelaki itu berhasil mendobrak pintu dan ia hanya mendapatkan kecewa karena Rinjani tak ada di dalam rumah.

            “Rinjani, dimana kau?” Teriaknya

Dalam persembunyiannya, Rinjani mendengar suara itu. Ia kenal sekali dengan suara itu, suara milik Dion si Kepala Desa. Kepala Desa itu adalah seorang lelaki yang sudah mapan, dulu lelaki itu hendak melamarnya menjadi istri ke empat tetapi ditolaknya karena ia lebih memilih cinta Lilik walaupun ia hanya seorang pemuda yang miskin. Kepala Desa itu mungkin juga masih menyimpan dendam dengan penolakannya tujuh bulan yang lalu, yaitu pada saat ia lebih memilih menjadi istri Lilik dari pada menjadi istrinya. Kepala Desa itulah yang paling bersih keras untuk mengungsikan dirinya ke tepi desa seperti ini. Rinjani sangat takut, ia terpaksa menahan napas dalam mata pedih berair, betapa  ia merasakan kegetiran dihatinya ketika Kepala Desa telah berjalan mondar-mandir di sekitar tempatnya bersembunyi. Dalam suram pandangan di malam yang pekat itu, ia melihat lelaki tua itu terus berputar-putar dan menggeram karena amarah.

            Dingin hujan dan malam yang memekat menambah suasana mencekam. Sekilas Rinjani teringat tentang peristiwa seminggu lalu di rumah Pak Kepala Desa. Ia hanya ingin meminta kembali sebuah kunci agar dapat kembali kerumahnya yang selama ini di segel olehnya, tetapi Pak Kepala Desa itu telah membuatnya takluk tak berdaya dalam cengkramannya yang kukuh. Seketika itu juga ia hancur tak berbentuk, bagaimana kalau Lilik pulang nanti, apa yang harus dikatakan kepadanya.

            Mulut Rinjani terkatup, sedapat mungkin ia menahan gemuruh dadanya yang amarah. Ada segurat sesal dihatinya yang bangkai. Tak sanggup lagi ia terus mengubur peristiwa itu, karena sedalam apapun bangkai terkubur busuknya masih membayang di tiap detakan jantungnya. Rinjani terus meremas bajunya yang kuyup dalam kegelisahan, bagaimana kalau-kalau Pak Kepala Desa tahu keberadaannya disini, tentu hal yang lalu akan terulang kembali malam ini, kekuatannya tak sebanding dengan tubuh besar Pak Kepala Desa. Berulang-ulang dalam ibanya kepada Tuhan, Rinjani memohon agar cepatlah malam berganti pagi sehingga ia bisa menyelamatkan diri dari cengkraman Pak Kepala Desa. Beberapa kali dalam ibanya, Rinjani hanya mendapatkan kepahitan, sebab pintanya tak pernah terwujud karena malam masih sangat panjang. Hidup tidak selalu mudah dalam perjalanannya, ia selalu berbelok dan berliku bagaikan kehidupannya saat ini. Pak Kepala Desa berhasil menemukannya di balik rimbun pepohonan yang gemetar karena tubuh Rinjani yang terlalu bergemuruh ketakutan.

            “Disini rupanya kau,” ucap Pak Kepala Desa yang bermata jalang dan berkali-kali menelan ludah melihat tubuh Rinjani yang kuyup.

Rinjani gugup, ia tak tahu harus berbuat apa. Kakinya seperti  terpaku di tempatnya berpijak dan tubuhnya terasa kaku membeku. Tak ada yang dapat dilakukannya seolah-olah saat itu pikirannya berhenti. Bagaikan binatang buas, Pak Kepala Desa menerkam tubuh Rinjani. Rinjani berontak, ia ingin menjerit tetapi tak ada sedikitpun kata yang keluar dari bibirnya yang dimamah Pak Kepala Desa. Tangan-tangan yang besar telah merayap-rayap di tubuhnya yang pasrah.

            “Lepaskan aku Pak Kades,” ucapnya dalam kepayahan.

Pak Kepala Desa tak menghiraukannya. Entah kekuatan darimana yang datang ke tubuh Rinjani yang tertindih, tiba-tiba saja ia berontak dengan menancapkan telunjuknya ke arah bola mata Pak Kepala Desa.

            “Aduh, sakit…sakit.” Teriaknya

Cepat-cepat Rinjani berkelit lalu berlari secepat mungkin meninggalkan Pak Kepala Desa. Namun Pak Kepala Desa tak lantas membiarkannya pergi terlalu jauh, terburu-buru dikejarnya Rinjani. Dalam kecemasan, Rinjani terus berlari walaupun segala persendiannya terasa lemas. Rinjani tahu ia telah salah arah dalam pelariannya, meskinya ia berlari ke arah barat tempat pemukiman warga desa berada sehingga bisa meminta pertolongan, tetapi kini ia telah berlari menuju timur, menuju ke arah laut. Lautan yang telah menambatkan hatinya kepada Lilik, lautlah yang menjadi tempat pertama kali ia bertemu Lilik, dan laut juga yang menjadi tempat ia melihat Lilik untuk terakhir kali. Tujuh bulan yang lalu Rinjani baru saja menikah dengan Lilik, tetapi Pak Kepala Desa telah menyuruh Lilik kembali bertugas untuk melaut. Tujuh bulan yang lalu ia telah menghantarkan suaminya kepada laut, tetapi laut tak pernah mengembalikan Lilik kepadanya. Laut telah mengambilnya dengan kejam, karena sejak saat itu suaminya tak pernah kembali kepadanya, entah masih hidup ataukah telah meninggal dunia.

            Rinjani terus berlari menuju laut, langkahnya semakin lambat karena terbenam pasir pantai. Dilihatnya ke belakang, Pak Kepala Desa terlihat agak jauh dari dirinya. Tubuhnya yang besar juga tua telah memperlambat langkahnya, dan Rinjani mensyukuri hal ini. Dalam pikirannya yang kalut, ia hanya ingin ke laut untuk bertemu suaminya yang telah terdengar memanggil-manggilnya di seberang lautan. Ia merasa suaminya berada dalam kedamaian bersama laut. Laut telah memberi makna kehidupan bagi dirinya, namun kali ini Rinjani tak lagi mendapati makna kehidupan itu sejak kepergian Lilik, suaminya. Ia hidup terasing dan dikucilkan tanpa alasan yang jelas. Rumah itu adalah milik suaminya, peninggalan orang tua Lilik yang telah bertahun-tahun lamanya, tetapi ia telah terusir dari rumah suaminya sendiri. Telah jauh Rinjani berlari, tetapi ia seperti tak sampai juga di laut. Telah seminggu lalu air laut surut sejauh tiga kilo meter dari pantai, ya…sama dengan peristiwa seminggu yang lalu di rumah Pak Kepala Desa yang menimpanya. Laut pun seakan berkabung untuknya karena hal itu, sehingga surutnya tak seperti biasanya. Inikah fenomena laut yang berkabung.

            “Bang Lilik, aku datang!” Rinjani merintih

Rinjani melihat bayangan suaminya di laut sedang tersenyum menyambutnya. Rinjani amat bahagia melihat kehadiran suami yang dirindukannya di seberang laut. Ia akan mengadu sebuah duka yang dikecapnya tanpa keberadaan Lilik disampingnya. Suasana semakin bertambah kelam dengan derai hujan yang sesekali disertai oleh gemuruh yang menderu. Laut telah menyentuh kaki Rinjani, dan Pak Kepala Desa diam saja melihat Rinjani yang terus berlari memburu laut dan lebih memilih bercengkraman dengan laut.

“Kemarilah Rinjani, jangan mati dulu…” ujarnya bergidik ngeri

Rinjani terus melabuhkan dirinya ke laut. Ia bersampan dengan tubuhnya sehingga henyap di lautan.

***

Beberapa hari belakangan warga desa mulai curiga dengan menghilangnya Rinjani dari gubuknya di tepi desa. Tak ada yang tahu pasti keberadaan Rinjani. Para warga terutama ibu-ibu merasa bersalah karena telah mengusir Rinjani dari rumah suaminya sendiri. Setiap hari mereka berusaha mencari keberadaan Rinjani bahkan sampai desa sebelah di seberang lautan tempat Rinjani berasal, namun semua usaha nihil dan tak membuahkan hasil, karena Rinjani sepertinya hilang begitu saja. Para warga desa mengamuk di hadapan Pak Kepala Desa, mereka meminta tanggung jawabnya atas kehilangan Rinjani, karena semua permasalahan ini berawal dari usul dan sarannya yaitu agar mengucilkan Rinjani sendiri di tepi desa dan dijauhkan dari masyarakat. Dengan bersandiwara serta untuk menjaga wibawanya, ia sendiri yang turun tangan langsung untuk mencari keberadaan Rinjani agar meredakan amarah warga dan meraih simpatik dari warga. Tidak ada petunjuk apa-apa tentang keberadaan Rinjani, sehingga Rinjani tak pernah ditemukan dimanapun di seluruh pelosok desa. Petunjuk itu tentunya tak lain berada di dalam ruang yang sangat sempit milik Pak Kepala Desa sendiri. Di dalam ruang itu telah tersimpan sebuah rahasia tentang keberadaan Rinjani. Bayangan Lilik, juga Rinjani terus bermunculan di ruang itu, dan menghantui pikiran dan kehidupan pemiliknya. Ruang itu ditutup sangat rapat oleh Pak Kepala Desa, sehingga tak ada yang mengetahui bahwa Lilik meninggal karena perbuatannya. Pak Kepala Desa merasa sangat rugi, jika bunga dari desa seberang yang masih segar dan indah dikecap oleh Lilik, seorang anak buahnya yang rendah. Membuat Rinjani menjanda, akan lebih memudahkan langkahnya untuk dapat memiliki Rinjani, melubangi kapal dan menyuruh Lilik melaut pada saat gelombang tinggi juga adalah harga yang pantas untuk penolakan Rinjani yang telah menorehkan arang ke mukanya yang tinggi dan bermartabat. Menaklukkan Rinjani adalah harga yang pantas untuk rindu dendamnya, sehingga dengan sengaja seminggu setelah acara pernikahan mereka selesai ia menugaskan Lilik untuk melaut dan menghabiskan semua cerita di antara mereka berdua detik itu juga.

Ketika para warga hampir-hampir lupa dengan kehilangan Rinjani, tetapi tidak demikian dengan Pak Kepala Desa yang setiap kali  melihat perempuan maka selalu saja tampak seperti melihat Rinjani dan setiap kali melihat laki-laki selalu saja tampak seperti melihat Lilik, seperti itulah yang terlihat dalam pandangannya. Pak Kepala Desa takut keluar rumah dan bertemu dengan banyak orang, sehingga berhari-hari yang dilakukannya hanya mengurung diri di dalam kamar, tetapi bila ia teringat sebulan lalu sebelum kematian Rinjani, Rinjani sendiri yang telah datang ke rumahnya hanya untuk meminta sebuah kunci rumah,  saat itu adalah saat dimana ia hanya berduaan saja dengan Rinjani. Kerinduannya selama ini terbalas sudah, ia bisa dengan mudah merengkuh hak Lilik walaupun dengan memaksa Rinjani. Salahkah ia bila terlalu mengagumi Rinjani, bunga yang masih muda dan segar dari desa seberang. Salahkah ia bila merasa iri dengan kelahirannya yang terlalu cepat dan tidak bersebaya dengan Rinjani, sehingga tak bisa memperoleh Rinjani. Entah mengapa Rinjani bisa jatuh cinta dan menaruh hati dengan pemuda yang miskin dan hanyalah salah seorang anak buahnya saja seperti Lilik, hal ini kerap membuatnya merasa rugi karena tentu tak bisa memperoleh molek tubuh Rinjani. Tiba-tiba bayangan Rinjani muncul begitu saja dari balik jendela kamarnya yang terbuka di hempas angin.

“Rinjani ampun…ampuuuun Rinjani,” isaknya histeris

Rinjani hanya melihatnya dalam diam dengan matanya yang mendelik. Pak Kepala Desa sangat ketakutan melihat sosok Rinjani yang tampak marah. Bergegas ia keluar rumah untuk menghindari Rinjani, pelariannya menuju timur atau menuju ke arah laut, tempat persemayaman dua insan. Laut masih sama seperti sebulan yang lalu, menyusut sejauh tiga kilometer dari pantai. Dalam kepayahan Pak Kepala Desa berlari untuk mencapai air laut dan melemparkan sesuatu ke dalamnya.

“Ini ambillah kunci rumahmu, Rinjani. Setelah ini jangan pernah menggangguku lagi,” teriaknya.

Rinjani mengangguk seraya tersenyum. Demi melihat itu Pak Kepala Desa tertawa, “ha…ha…ha…akhirnya aku bebas.” Teriaknya kegirangan sambil mengoyang-goyangkan tubuhnya walau tak ada irama apa-apa. Tak lama kemudian, ia melihat bayangan Lilik menghampiri Rinjani, dan terlihat sepertinya Rinjani membisikkan sesuatu kepadanya. Seperti tahu apa yang dibisikkan Rinjani kepada Lilik, Pak Kepala Desa gugup lantas bersimpuh, “Maaf…maafkan aku Lilik. Aku hanya…”

Tak sempat Pak Kepala Desa meneruskan kata-katanya, tiba-tiba saja gelombang besar menyeret tubuhnya ke tengah laut, membilas-bilas tubuhnya hingga menenggelamkannya tanpa memberinya pilihan lain. Sebelum ia berakhir di lautan sempat terpikir olehnya mengapakah laut tidak memberinya suatu pilihan.

            Tidakkah ia tahu bahwa laut telah memberinya sebuah pilihan.

Cerpen Laut (Dimuat di Harian Analisa, Medan. Rabu 20 Juni 2012)

 


Comments




Leave a Reply

    English French German Spain

    Italian Dutch Russian Brazil

    Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
    Translate Widget by Google

     Rosintan Hasibuan 

    Archives

    November 2012
    June 2012

    Judul

    All
    Cerpen
    Ibu
    Laut
    Metafora
    Sastra
    Tersesat